Khutbah — PESAN HAJI DAN UMROH

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt. Yang telah memberikan berbagai nikmat, terutama nikmat sehat, iman, dan islam, sehingga kita dapat melaksanakan ibadah sholat Jumat, dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Sholawat dan salam, semoga selalu dilimpahkan kepada Rasulullah Muhammad Saw. Segala ucapan, perbuatan, dan tingkah laku beliau adalah teladan yang baik bagi kita, hingga yaumil akhir.

Labbaika Allahumma labbaik! Ku penuhi panggilan-Mu, duhai Allah!

Sepenggal kalimat talbiyah itu, sering kita dengar di bulan Dzulhijjah, baik lewat media, atau pun saat kita mengantar saudara-saudara kita berangkat haji. Kalimat itu digemuruhkan oleh jutaan orang dari seluruh pelosok dunia.

Ibadah haji adalah ibadah yang memiliki daya tarik yang luar biasa besar. Mampu menghimpun jutaan orang. Tanpa ada undangan. Tanpa ada promosi. Tidak ada satu pun event di dunia ini, yang seberhasil ibadah haji dalam pengumpulan massa. Rasa-rasanya, piala dunia pun kalah meriahnya. Lautan manusia, berpakaian ihram putih-putih, melebur jadi satu di tanah Makah. Mereka punya niat luhur yang sama: berkunjung ke rumah Allah untuk meraih haji mabrur.

Salah satu nilai luhur yang coba ditempa dalam ibadah haji adalah ketaatan. Tentang hal ini, teringat pesan Umar bin Khathab, sesaat sebelum mencium hajar aswad.

Begini kata Beliau, “Sungguh, aku tahu, engkau hanya sebongkah batu hitam (hajar aswad), yang tidak bisa mendatangkan manfaat atau mudarat. Andai saja aku tidak melihat Rasulullah menciummu, pasti aku tidak akan sudi menciummu.”

Itulah sikap Umar bin Khathab. Kemudian diteruskan oleh jamah haji. Mereka melaksanakan semua rangkaian ibadah haji, selama itu adalah perintah Allah. Mereka tidak pernah protes mengapa harus lari-lari kecil, berpakaian serba putih, melontar jumrah, atau mengelilingi Ka’bah. Semua dilakukan dengan penuh semangat sami’ na wa athana, kami dengar dan kami taat.

Nilai luhur kedua yang bisa kita petik dari rangkaian ibadah haji adalah saat sa’i (berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwa). Dalam surat al-Baqarah ayat 158 Allah berfirman:

ole0.bmp

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan thawaf antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. (QS 2: 158)

Shafa dan Marwa adalah dua tempat yang dulu disinggahi Hajar, istri nabi Ibrohim. Di tempat itu Hajar kehabisan air. Dia kehausan. Sambil panik, ia mencari-cari air dengan berlari-lari kecil menaiki dan menuruni dua bukit itu. Dua bukit Shafa dan Marwa itu, kini menjadi simbol yang mengingatkan kita pada ketabahan hati seorang Hajar, yang pada waktu itu ditinggal oleh suaminya, Nabi Ibrohim. Awalnya Hajar protes, kenapa saya ditinggalkan di tempat gersang, kering, dan tidak ada pepohonan. Nabi Ibrohim kemudian menjawab, bahwa ini adalah perintah Allah. Kita harus percaya. Sebab Allah tidak akan menyia-nyiakan kamu. Kemudian Hajar menerimanya dengan tabah dan tulus. Kita semua tahu, tabah dan tulus adalah bagian dari sikap takwa.

Pesan berikutnya dari rangkaian ibadah haji adalah saat thawaf, saat berjalan mengelilingi ka’bah. Dulu, di sekitar bangunan Ka’bah banyak berdiri patung-patung berhala. Orang-orang Arab jahiliyah menyembah patung-patung itu. Mereka menyembah Tuhan yang dibuatnya sendiri. Dengan itu, mereka telah melakukan syirik kepada Allah Swt.

Kemudian saat ini, jamaah haji pun melakukan thawaf, adalah untuk mengingatkan kita pada pusat dan tujuan hidup kita. Bukan pada patung, berhala, atau benda-benda duniawi, tetapi kepada Allah, al-khaaliqul baari, yang Maha Menciptakan lagi Maha Memelihara.

Bila kita renungkan dengan kaca mata ruhani, thawaf adalah cermin hidup kita, dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kita sadar, bahwa pusat orang-orang melakukan thawaf adalah Allah, bukan bangunan Ka’bah. Dalam hidup sehari-hari pun, pusat dari segala gerak-gerik kita adalah Allah Swt.

Kenapa ini perlu disampaikan, karena, seringkali dalam hidup ini kita menciptakan kiblat-kiblat duniawi. Yang menyedot perhatian dan emosi kita. Kita berputar di kiblat yang kita buat sendiri. Seolah-olah kita melakukan thawaf. Padahal thawaf dinilai benar kalau yang menjadi pusat putaran itu adalah Allah Swt. Ini kira-kira tercermin dalam kalimat yang sering kita baca, “inna sholaatii, wa nusukii, wa mahyaayaa …” Sesungguhnya hidupku, kerjaku, segala jerih payahku, dengan kata lain thawafku, hanya karena Allah semata.

Barakallah … Bhayangkara, 4 Nov 2011

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: