Memahami Anarkisme Sosial – Zaprulkhan

Penulis: Oleh: Dr. Zaprulkhan, M.S.I Dosen STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Babel edisi: 28/Jan/2012 wib

“Sudah waktunya bagi penegak hukum untuk menegakkan keadilan secara adil dan positif, bukan pemihakan diskriminatif terhadap sejumlah pejabat. Dan sudah waktunya pula, bila penguasa menghentikan sejumlah skenario yang justru kian menyengsarakan kaum papa, sebab merekalah yang menjadi korban”

Akhir-akhir ini kita disuguhkan puspa ragam fenomena kekerasan yang cukup memprihatinkan kita semua. Belum hilang kehebohan tentang konflik lahan di dua Mesuji, baik di Kabupaten Mesuji Lampung, maupun di Kabupaten Mesuji Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, tiba-tiba kita dikejutkan dengan fenomena kekerasan di Bima, NTB. Belum lagi berbagai konflik, baik di kalangan mahasiswa dengan pihak pemerintah, maupun dari kalangan masyarakat “kaum petani dan buruh” dengan pihak penguasa yang seringkali berujung pada bentrokan secara fisik dan mengakibatkan berjatuhannya korban yang tidak sedikit.

Melihat semua fenomena yang menyayat rasa kemanusiaan kita akhir-akhir ini, sejumlah pertanyaan pantas untuk dikemukakan: Apa yang sebenarnya tengah melanda bangsa kita, baik pada tingkat individual maupun tingkat sosial? Perubahan individual dan perubahan sosial atau kultural apa yang sebenarnya tengah terjadi, sehingga nilai-nilai luhur sosial, kultural, moral, dan spiritual bangsa ini seakan-akan telah terkikis habis diambil alih oleh nilai-nilai kekerasan, kebrutalan, atau kesadisan? Dan bagaimanakah kita dapat menjelaskan semua peristiwa di atas?.

Menurut pengamatan seorang ahli Cultural Studies kontemporer, Yasraf Amir Piliang, telah terjadi perubahan sosial yang cukup dramatis terhadap masyarakat Indonesia dalam beberapa dekade terakhir ini, yaitu perubahan masyarakat dari satu ekstrem ke ekstrem yang lainnya. Dari kondisi hanyut dalam ekstasi kemewahan, gaya hidup, pretise, konsumerisme, menuju ektrem lain berupa ekstasi pembunuhan,
kriminalitas, pembakaran, dan pemerkosaan. Dua titik ekstrem pengalaman ekstasi ini, yang berlangsung dalam rentang waktu relatif singkat, dapat menyimpulkan suatu perubahan sosial besar lainnya yang tengah melanda bangsa kita. Bahwa dalam modernisasi dan pembangunan, sebagai bangsa kita telah kehilangan sesuatu yang sangat penting yaitu akal sehat dan kontrol diri. Kita membiarkan diri kita tenggelam dalam dua ekstremitas sekaligus (ektremitas kemewahan dan kekerasan) tanpa bisa mengendalikan diri. Namun menurut Erich Fromm dalam
masterpeace-nya, The Anatomy of Human Destructiveness, kekerasan dan agresivitas bukanlah merupakan satu sifat yang berdiri sendiri, akan tetapi merupakan bagian dari sebuah sindrom. Yakni kita menemukan agresivitas dan kekerasan bersamaan dengan sifat lain di dalam sebuah sistem, seperti hierarki yang kaku, terlalu kuatnya dominasi, terbaginya masyarakat ke dalam kelas-kelas, dan sebagainya. Di sini, agresi harus dipahami sebagai bagian dari karakter sosial yang dibentuk secara kultural, berupa nilai-nilai yang ditanamkan pada masyarakat. Dengan demikian, kekerasan tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial dengan segala bentuk konflik, pertentangan, serta perubahan yang ada di dalamnya.

Sampai di sini, pertanyaan praktis-kontekstualnya adalah faktor apakah yang menyebabkan munculnya fenomena kekerasan demi kekerasan sosial dalam masyarakat Indonesia? Secara global, paling tidak ada dua faktor besar. Pertama, dalam banyak kasus kekerasan yang berkembang di Indonesia, ada kondisi-kondisi eksternal yang menstimulasi
berkembangnya kekerasan, seperti konflik, ketidakadilan, kesenjangan, kesemena-menaan, dan sebagainya. Konflik merupakan kondisi eksternal yang menonjol sebagai pemicu tindak kekerasan massal, seperti konflik agama (Tanjong Priok, Timor Timur, Tasikmalaya, Situbondi, Ketapang), konflik suku (Sanggau-Ledo, Irian, Timor Timur), konflik ras (Jakarta, Medan, Solo), konflik antar kampung (Tanah Abang, Manggarai), konflik partai, konflik profesi/santet (Banyuwangi), dan konflik antar pelajar. Ketidakadilan pun mengundang kekerasan di industri-industri, seperti pembakaran pabrik, protes buruh secara masal tentang kenaikan gaji dan jaminan kerja, sampai penjarahan. Begitu pula
kesewenang-wenangan pejabat terhadap rakyat jelata telah menimbulkan banyak kasus pengrusakan, pembakaran, atau penyegelan terhadap fasilitas-fasilitas negara: kantor polisi, kantor camat, bupati, hingga kepala desa, RT/RW.

Kedua, menurut sebagian ahli, dalam berbagai anarkisme sosial itu sebenarnya ada beragam skenario besar yang salah satunya adalah skenario mengalihkan perhatian masyarakat luas dari isu-isu besar yang tengah menyudutkan penguasa: kasus Century, kasus suap Deputi Gubernur Senior BI, Wisma Atlet, dan Hambalang. Apalagi semakin kompleksnya pertautan antara kekuasaan dengan kekerasan sebagai akibat semakin maju dan meningkatnya kompleksitas teknologi, manajemen, dan kehidupan sosial-politik. Kekuasaan dan kekerasan yang ada di baliknya, kini dilengkapi dengan, teknologi tinggi, manajemen tinggi, dan politik tinggi.

Artinya, begitu canggihnya cara, trik, taktik, dan strategi yang digunakan, sehingga kekerasanùyang sebenarnya merupakan bagian yang menyatu dalam mempertahankan kekuasaanùdiciptakan sedemikian rupa, sehingga seolah-olah kekerasan tersebut tidak pernah ada. Seolah-olah kekerasan itu dilakukan oleh sekelompok tertentu yang antipemerintah (makar/subversi). Seolah-olah kekerasan itu murni terjadi di antara kelompok-kelompok masyarakat yang sedang bermusuhan. Padahal, di balik kekerasan tersebut ada skenario-skenario yang diciptakan, yang semuanya pada akhirnya bermuara pada upaya pelanggengan kekuasaan.

Inilah yang oleh seorang pemikir Prancis, Jean Baudrillard, di dalam karyanya, The Prefect Crime, dikatakan bahwa dengan bantuan teknologi, manajemen, dan politik tinggi, kejahatan dan kekerasan kini telah mencapai tingkatnya yang sempurna yang ia sebut dengan kriminalitas sempurna. Kejahatan telah melampaui realitas, sehingga ia kini menemukan bentuknya yang baru, yaitu bentuk hiperkriminalitas. Salah satu metode penting di dalam hiperkriminalitas adalah penciptaan simulasi kekerasan. Artinya, teror, kejahatan, dan kerusuhan dengan sengaja diciptakan berdasarkan skenario-skenario tertentu, sehingga muncul kesan bahwa semua dilakukan dalam rangka menjatuhkan pemerintah atau kekuasaan yang ada. Kejahatan diciptakan untuk menimbulkan suatu kebutuhan dalam masyarakat akan adanya orang yang harus dijadikan penyelamat, yang tidak lain adalah kelompok penguasa itu sendiri.

Pada titik inilah, sudah waktunya bagi pemerintah untuk menciptakan keadilan, kesejahteraan, pemerataan bagi wong cilik, dan kepedulian dalam membela hak-hak orang tertindas. Sudah waktunya bagi penegak hukum untuk menegakkan keadilan secara adil dan positif, bukan pemihakan diskriminatif terhadap sejumlah pejabat. Dan sudah waktunya pula, bila penguasa menghentikan sejumlah skenario yang justru kian menyengsarakan kaum papa, sebab merekalah yang menjadi korban, semoga.***

http://cetak.bangkapos.com/opini/read/1224/Memahami+Anarkisme+Sosial.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: