Instagram Terinspirasi dari Polaroid

Intisari-Online.com – Instagram membuat berita ketika dibeli Facebook senilai Rp 9,1 triliun. Nilai yang besar itu otomatis menjadikan Kevin Systrom (28) dan Mike Krieger (26), dua alumnus Universitas Stanford sebagai orang muda kaya baru. Situs mercurynews menyebut setelah pembelian Facebook, Kevin dan Mike menolak diwawancarai.

Kevin lulusan Management Science and Engineering, Universitas Stanford, tahun 2006. Dalam jejak bisnis yang masih singkat itu, ia telah turut menghias nama terbesar dalam jejaring sosial – pertama magang di Odeo – yang kemudian lebih dikenal sebagai Twitter. Ia menghabiskan dua tahun di Google – sebagai bagian dari tim yang mengembangkan Gmail dan Google Reader.

Rekan kerjanya, Mike Krieger, lahir di Sao Paulo, Brazil, dan datang ke AS tahun 2004 untuk kuliah di Stanford. Tesis masternya menyoal antarmuka bagaimana pengguna dapat dukungan lebih baik pada skala yang besar. Setelah lulus ia bekerja di perusahaan pesan cepat Meebo selama 1,5 tahun sebagai perancang pengalaman pengguna dan insinyur front-end.

Keduanya terinspirasi untuk membuat aplikasi Instagram – awalnya diluncurkan khusus untuk iPhone pada musim gugur – dari foto Polaroid lama. Mirip dengan Polaroid yang bisa dicetak segera dan dilihat, Instagram pun ingin membagikan foto segera kepada teman-temannya tanpa menunggu berjam-jam atau beberapa hari.

Gambar dari kamera selalu berbentuk kotak, jarang dengan warna-warna yang tak umum seperti yang diciptakan melalui filter-filter yang ada di Instagram. Awalnya mereka berpikir untuk ide yang lain, tetapi mereka membuang ide itu dan secara sederhana hanya ingin berbagi foto. Itu saja.

“Kami ingin mengubah dan memperbaiki cara dunia berkomunikasi dan berbagi,” kata Kevin Systrom. Aplikasi ini dirancang untuk bisa nyambung dengan situs-situs jejaring sosial lainnya – termasuk tentu saja Facebook. Dalam beberapa jam aplikasi ini diunduh sebanyak 10.000 pengguna. Jumlahnya menyentuh 200.000 pada minggu pertama.

Saat diwawancarai situs Crazyengineers, Kevin menjelaskan bagaimana aplikasi Instagram bekerja. “Semua filter adalah sebuah peta input ke output. Dibutuhkan sebuah piksel masuk dan mendorong sebuah piksel keluar. Dengan cara itu Anda bisa berpikir filter hanya berfungsi sebagai fungsi.”

Ia menambahkan bahwa kecepatan foto muncul karena berkurangnya data yang dibutuhkan untuk menghasilkan citra. “Keajaiban di balik cepatnya terunggah sederhana saja. Kita tidak mengunggahnya dalam resolusi yang penuh. Daripada mengunggah 3 MB mending 60 kb namun dengan perbedaan besar dalam reliabilitas.”

Dalam sesi wawancara dengan majalah Times, 4 April 2012, Kevin menuturkan bahwa dia memang memiliki latar belakang fotografi. “Setiap Natal, aku selalu dapat kamera baru dan itu menjadi bagian penting dalam hidupku,” katanya. (*)

http://intisari-online.com/read/instagram-terinspirasi-dari-polaroid

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: