Kapak, Gergaji, dan Api

Menulis untuk Keabadian

Cerpen ini pernah diterbitkan pada harian Banjarmasin Post edisi Minggu, 21 Oktober 2012.

***

Letih juga tubuh ini, selarut ini aku baru bisa menuju pulang kerumah. Banyak orang di kanan kiri sering bertanya, mengapa aku bisa betah di penjara rutinitas seperti ini. Jawabanku sederhana, aku tidak merasa seperti di penjara. Aku memang mencintai apa yang aku kerjakan sekarang. Aku menyukai jika setiap waktu yang aku miliki, aku gunakan secara maksimal. Satu hal yang kadang kala aku sesali, itu adalah ketika aku tidak memiliki waktu berkualitas yang aku habiskan bersama keluarga.

Pukul satu lewat lima, aku baru sampai di rumah. Anak-anak sudah lama tertidur. Tapi aku selalu saja pergi kekamarnya terlebih dahulu. Menciumi kening mereka satu-satu. Membingkiskan kasih sayang yang telah aku kumpulkan seharian penuh lewat sebuah ciuman di kening.

“Belum tidur bu?” aku disambut oleh senyuman isteriku ketika sampai di kamar. Aku curiga isteriku selalu menyimpan senyumannya di lemari pendingin…

Lihat pos aslinya 967 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: