Natal Itu Damai

NATAL identik dengan damai. Kedamaian sejatinya punya makna universal. Setiap orang, apa pun agama, keyakinan, budaya, dan bangsanya, senantiasa berupaya mencapai kedamaian.

Berdamai dengan diri sendiri, baik sebagai pribadi maupun bangsa, ialah ikhtiar yang pertama-tama harus kita lakukan untuk mencapai kedamaian hakiki.

Kita telah berdamai dengan diri sendiri bila kita berhasil menaklukkan nafsu di dalam diri. Hasrat memperkaya diri, berkuasa dengan menempuh segala cara, serta merasa paling benar merupakan syahwat dalam diri yang harus kita taklukkan.

Nafsu memperkaya diri melahirkan pribadi serakah dan koruptif. Namun, kita sepertinya gagal meredam nafsu itu.

Tengoklah indeks persepsi korupsi kita tahun ini, menurut Transperancy International Indonesia, bertengger di urutan 118 dari 176 negara. Posisi tersebut melorot jika dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya di urutan 100. Itu artinya, bukan cuma gagal menaklukkannya, korupsi ternyata menghujam semakin dalam di bumi Indonesia.

Nafsu berkuasa dengan segala cara selain melahirkan pribadi koruptif, juga memicu berbagai konflik. Banyak kepala daerah dan anggota legislatif yang mencapai kursi kekuasaan dengan menabur uang besar-besaran. Begitu mereka menjabat, mereka melakukan korupsi untuk mengembalikannya.

Tak mengherankan bila Kementerian Dalam Negeri mencatat sepanjang 2004-2012 terdapat 173 kepala daerah tersangkut korupsi. Tak mengherankan pula bila hingga Mei 2012 Komisi Pemberantasan Korupsi telah mengirim 40 anggota DPR RI yang terlibat korupsi ke bui. Juga tercatat 2.976 anggota DPRD yang diindikasikan terlibat korupsi telah diberi izin diperiksa sepanjang 2004-2012.

Adapun potensi konflik akibat pemilu kada, menurut data Mahkamah Konstitusi, mencapai 50 persen dari total pemilu kada yang digelar di Tanah Air.

Syahwat merasa paling benar melahirkan pribadi yang egoistis, ingin menang sendiri, dan cenderung memonopoli kebenaran.

Sikap seperti itu terbukti menggerus toleransi dan keberagamaan, tetapi memicu pelanggaran hak dan kebebasan. Lihatlah betapa tingkat pelanggaran kebebasan beragama masih terbilang tinggi di negara ini. Setara Institute melaporkan sepanjang 2012 tercatat 371 pelanggaran kebebasan beragama.

Masih berjangkitnya nafsu memperkaya diri, berkuasa, dan merasa paling benar, menunjukkan kita belum berhasil berdamai dengan diri sendiri.

Kita, sebagai pribadi dan bangsa, hendaknya mampu menjadikan natal hari ini sebagai momentum menaklukkan berbagai hasrat negatif dalam diri, demi menghadirkan kedamaian hakiki di muka bumi.

Editorial Media Indonesia

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: