Metamorfosis ‘Kiri’

Majalah Tempo, 6 Jan 2013. Samsudin Adlawi, Wartawan Jawa Pos dan penyair.

KIRI dan kanan. Antonim dua kata itu tidak terbatas pada arah semata, tapi juga menjalar hingga ke aspek kehidupan lebih luas, dari etika pergaulan sehari-sehari, religi, hingga politik.

Dalam kehidupan sosial-budaya, “kanan” dianalogikan kepada hal-hal baik. Sebaliknya “kiri” dikaitkan dengan yang tidak baik. Ketika anak balita menjulurkan tangan kiri untuk menerima permen pemberian orang, orang tuanya akan segera mencegah dan bilang, “Hayo, tangan kanannya mana?”

Larangan menggunakan tangan kiri juga berlaku untuk aktivitas keseharian yang lain, seperti makan dan minum. Mereka yang menggunakan tangan kiri untuk menerima atau memberikan sesuatu, makan, dan minum dianggap tidak mengerti etika. Orang di desa saya menyebutnya sebagai budaya Barat. Kurang sesuai dengan adat ketimuran. Bisa jadi pemahaman seperti itu yang menyebabkan sedikit sekali orang kidal di negeri ini. Dalam olahraga bulu tangkis, misalnya, boleh dikata tidak ada pemain Indonesia yang bermain dengan tangan kiri. Ini sangat kontras dengan pemain dari negara Eropa dan pemain dari negara Asia lainnya.

Ternyata penabuan “kiri” tak sekadar konvensi atau tradisi, tapi juga linier dengan tuntunan agama. Khususnya dalam agama Islam. Seperti disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw, “Hendaknya kalian makan dengan tangan kanan, minum dengan tangan kanan, menerima sesuatu dari orang lain dengan tangan kanan, dan menyerahkan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kanan….”

Yang makan, minum, dan menerima sesuatu dengan tangan kiri, serta menyerahkan sesuatu juga dengan tangan kiri, menurut hadis yang diriwayatkan Abu Salamah dan Abu Hurairah, dikategorikan sebagai (meniru kelakuan) setan. Lain halnya ketika masuk kamar kecil. Justru diperintahkan menggunakan kaki kiri mendahului kaki kanan. Alasannya, kamar kecil dianggap sebagai sarang khubuts (kejahatan atau kejelekan).

Nasib “kiri” dalam politik dan pemikiran tak kalah menyedihkan. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa, edisi keempat, mendefinisikan kata “kiri” sebagai berikut:

(3) n Pol sebutan kpd partai (golongan) berhaluan sosialisme yg lama yg menghendaki perubahan secara radikal (tt politik, partai, dsb): orang-orang — biasanya condong ke paham komunis.

Contoh dalam KBBI itu seolah-olah menjadi pembenar bahwa “kiri” selalu identik dengan komunisme. Dalam konteks Indonesia yang pernah mengalami luka sejarah akibat komunisme, terminologi “kiri” sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi hantu. Sebab, kata “kiri” masih sangat sensitif bagi bangsa ini. Segar dalam ingatan, pada 19 April 2001 terjadi pembakaran dan aksi sweeping atas buku-buku yang dianggap kekiri-kirian. Itulah aksi terbesar setelah Gerakan 30 September 1965 (G-30-S) atau Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) dan Gestok (Gerakan Satu Oktober). Peristiwa tersebut terjadi selewat malam tanggal 30 September hingga awal 1 Oktober 1965. Saat itu, enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh. Usaha percobaan kudeta itu kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.

Peristiwa tersebut berbuntut. Pada 1980-an, pemerintah (Departemen Dalam Negeri) mengeluarkan kebijakan “bersih diri” yang dikenakan kepada mereka yang terlibat dalam G-30-S, anggota PKI, dan anggota organisasi sejenisnya. Juga ada istilah “bersih lingkungan” yang dialamatkan kepada anggota keluarga mereka yang telah dicap komunis. Mereka yang tidak “bersih diri” atau “bersih lingkungan” dilarang menjadi anggota TNI/Polri, guru, pendeta, dan/atau profesi lain yang dianggap bisa mempengaruhi masyarakat.

Dalam perkembangannya, ternyata tragedi kemanusiaan tidak lagi dimonopoli oleh gerakan “kiri”. Pada Juli 2011, Anders Behring Breivik, 33 tahun, yang mengklaim sebagai ekstremis “sayap kanan”, membantai 69 orang di Pulau Utoeya. Pria kelahiran Oslo, Norwegia, itu juga melakukan pengeboman yang menewaskan delapan orang di Oslo. Total 77 orang tak berdosa menjadi korban aksi brutal pemuda penentang keras multikulturalisme tersebut.

Sebaliknya, gerakan “kiri baru” malah jauh dari kesan angker dan jauh dari kesan sebuah pemikiran yang akan melahirkan kekacauan. KBBI mengartikan “kiri baru” sebagai gerakan moral yang menganut pandangan baru dalam membela kepentingan rakyat dan bukan merupakan partai atau lembaga terorganisasi dan berdisiplin. Di Eropa, gerakan rehabilitasi stigma terhadap “kiri” dilakukan oleh Presiden Prancis Francois Hollande. “Tak akan ada lagi anak republik yang disia-siakan,” pemimpin Partai Sosialis itu menegaskan saat kampanye pemilihan Presiden Prancis beberapa waktu lalu, seperti dikutip The Guardian.

Di tengah percaturan politik Eropa yang kian bergerak ke “kanan” (konservatif, ultranasionalis), janji presiden “kiri” pertama Prancis sejak Francois Mitterrand terpilih kedua kali pada 1988 itu sungguh menyegarkan. Sebelumnya, muncul kekhawatiran, jika incumbent Nicolas Sarkozy yang terpilih, Prancis bakal tercabik-cabik oleh perkara diskriminasi, intoleransi, dan xenofobia (kebencian kepada ras lain).

Barangkali, dengan lahirnya “gerakan kiri baru” di Eropa yang jauh dari kesan yang kelam dan kekejian, kata “kiri” tak selalu berarti negatif.

http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/01/06/metamorfosis-kiri/#more-2433

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: